Monday, August 7, 2017

Ambimoron, Oksivalensi, dan Jangan Kamu Nikah Muda (2)


Aku dan Dhani sekelas waktu SMA. Pertama kali ia mendekatiku saat pelajaran Bahasa Indonesia, di mana kami semua diminta untuk bercerita tentang liburan kami bersama keluarga. Dengan percaya diri aku menceritakan liburanku yang membosankan, berkeliling ke beberapa toko buku bekas turis di Bali. Aku sudah terbiasa tak peduli dengan label yang diberikan teman-temanku padaku. Hingga Dhani mendatangiku di akhir pelajaran, kemudian memuji ceritaku yang mirip dengan yang ia alami. Sejak itu kami sering pergi berdua dan resmi berpacaran. Tak butuh waktu yang lama bagi kami untuk saling menyesuaikan diri. Kebencian kami pada realita, pandangan kami terhadap palsunya tatanan sosial, dan bagaimana kami menyikapinya lah yang menjadikan kami cocok satu sama lain. Aku seperti melihat diriku padanya dan ia melihat dirinya padaku. Meski kami tak saling melengkapi, kami berdua serasa seperti mengencani diri kami sendiri. 

Di satu sisi, aku dan Dhani tumbuh untuk menikmati kebebasan kami, namun di sisi lain kami merasa sangat kesepian. Tentu, menjadi bagian dari keluarga konservatif yang kaku dan penuh kepalsuan hanya akan menyiksa Dhani. Aku sendiri sudah pacaran lima tahun dengannya. Aku tahu benar sebenci apa Dhani pada doktrin budaya ketimuran yang munafik, apalagi dipaksa menjadi bagian dari kemunafikan, membuatku tak yakin Dhani akan menikmati kehidupan barunya. Tak heran, aku pun paham alasan Dhani untuk tak ingin punya anak cepat-cepat. Mungkin ia hanya tak ingin masa kecil anaknya mereplika masa kecilnya. Atau mungkin ia ingin pelan-pelan menjauh dari pengaruh keluarga Zara, supaya mereka tak banyak ikut campur mengurusi anak mereka kelak. 

"Maaf aku baru mengabarimu. Aku baru tahu kau sudah di Jakarta. Dhani memberitahuku, tapi sekarang ia sedang banyak urusan, survey lahan katanya. Ia sibuk sekali belakangan, makanya aku ikut-ikutan bisnis kecil-kecilan begini. Lagipula, aku ingin bicara empat mata saja denganmu."

Ah, jadi sekarang Dhani yang mengurus bisnis keluarganya. Kupikir ia terpaksa menjalaninya, tapi dari cerita Zara, sepertinya Dhani tampak menikmatinya. Dulu ia bercita-cita untuk memiliki usaha sendiri di bidang lain, tapi nampaknya waktu memang mengubah orang.

"Nggak apa-apa. Ngomong-ngomong, apa maksudmu dengan hanya ingin kita berdua saja?" tanyaku penasaran.

"Duh, aku bingung bagaimana mengatakannya. Begini, entah kau sekarang menganggapku seperti apa, tapi aku masih menganggapmu sama seperti dulu. Dan kau adalah satu-satunya orang yang bisa kuandalkan soal ini..."

Zara melepas arloji Braun hitam dari tangan kirinya, lalu perlahan menggulung lengan blus viscouse hijau tua yang ia kenakan. Lengan mungil yang dulu putih mulus itu kini penuh dengan luka lebam kebiruan. 

"Dhani melakukan ini padaku tiap ia pulang meeting. Aku cuma tanya soal bisnisnya lalu ia menatapku penuh emosi kayak kesurupan leak yang lagi lapar. Aku takut. Aku hanya diam ketakutan sementara ia memaki tanpa henti," keluh Zara dengan volume suara yang makin mengecil dan terbata-bata. Sebentar lagi pasti tangisnya meledak.

Aku diam saja tak ingin menyela ceritanya. Benar saja, air mata mulai membanjiri pipinya yang memerah dan isak tangis membuat suaranya seperti kambing yang pura-pura kejang sesaat sebelum disembelih.

"Kalau aku sudah diam, dia bakal meninggikan suaranya lalu membanting barang-barang di sekitarnya. Biasanya aku cuma bisa meringkuk sambil menutup telingaku. Kalau sudah begitu, dia nggak segan mencengkeram tanganku keras sekali, membuka paksa kerudungku, menjambak rambutku dan bicara keras-keras di samping telingaku. Aku nggak bisa apa-apa, aku sudah pasti menangis. Nggak lama pasti dia mulai memukulku dengan bantal, atau paling parah menendangku bertubi-tubi." lanjut Zara sambil memperlihatkan pinggangnya yang juga penuh luka lebam.

"Lalu?" aku akhirnya buka mulut.

"Setelah aku menangis nggak berdaya, sorot matanya berubah dan tiba-tiba Dhani jadi peduli padaku. Ia lalu memelukku, terus-menerus minta maaf sambil mengusap tangisku. 'Cup, cup. Maaf sayang, aku khilaf terbawa emosi,' katanya. Aku balas memeluknya saat ia mencium keningku dan mengelus rambutku penuh penyesalan."

"Selama ini kau nggak cerita ke siapa pun? Ini kelewatan, Ra." tanyaku sambil mengulurkan tisu.

Ia mengisap rokoknya sebelum melanjutkan, "Dengar dulu. Selanjutnya dia bakal membelai pipiku dan menciumku perlahan. Kalau nggak kubalas ciumannya, ia akan memaksaku melakukannya. Dan kalau sudah begitu, tangannya pelan-pelan meremas dadaku dan.. kau tahu lah.."

"Tahu apa?"

"Nggak usah pura-pura bodoh, kita sudah sama-sama dua puluh empat tahun."

"Oh.."

"Ya, kami melanjutkannya dengan seks. Di ruang tengah, di dapur, di atas meja tv, di garasi mobil. Di mana pun kami bisa melakukannya. Dhani kelihatan sangat bernafsu melakukannya, aku jarang lihat nafsu sebesar itu tiap kami melakukannya secara normal."

Aku menelan ludah dan mencoba membayangkan hal lain. Mendengar cerita seks antara Zara dan Dhani lebih jauh hanya akan membangkitkan memori-memori yang tak kuinginkan.

"Maaf aku cerita ini padamu, tapi aku nggak tahan, Oyak. Dhani sekarang jarang melibatkanku dalam diskusi atau ambil keputusan soal hal-hal remeh kayak pas masih kuliah. Sekarang ia melihatku cuma sebagai properti, seperti cara keluarga besarku melihat istri-istri mereka. Aku ingin diperlakukan sebagai partner, makhluk yang setara. Bukannya budak seks yang nggak berdaya lalu disumpahi macam-macam dan selalu berakhir lemas di ranjang. Aku nggak tahan harus hidup dengan ketakutan yang sama bakal terulang esok hari." aku Zara diselingi isapan rokok dan isak tangis yang tak seirama.

"Lalu kenapa baru cerita sekarang? Pernah coba ke konsultan rumah tangga?"

"Nggak. Nggak bakal, kurasa. Aku bahkan nggak berani bilang ke Dhani. Memang kau pikir aku mau buka-bukaan soal ini? Kau pikir nanti keluargaku mau bilang apa? Keluargaku menganggapku beruntung sekali punya suami sekaya Dhani. Kalau tahu aku mau minta cerai, mereka bakal memaksaku untuk tetap diam dan bilang 'Awal nikah pasti banyak cekcoknya' atau 'Roda berputar, kadang di atas kadang di bawah' atau apalah.."

Kalau mau jujur, aku tidak kaget. Ternyata Dhani yang sekarang masih seperti yang kukenal. Selama pacaran lima tahun, kami seperti saling menyalurkan energi kami satu sama lain, entah positif atau negatif. Kami bisa dipenuhi nafsu untuk saling menguliti, dan di waktu yang sama memberikan nyawa kami satu sama lain jika diperlukan. Kami bisa dibutakan kebiadaban untuk saling menyobek arteri di pelipis masing-masing, lalu sekejap merengek manja seperti bayi yang ditinggal ibunya sepersekian detik. Termasuk soal seks, kami sama-sama kecanduan hubungan yang deras akan cinta dan amarah. Apalagi jika zat-zat haram macam amfetamin atau LSD sedang mengalir liar di darah kami, fantasi kami soal kekerasan dalam seks biasa kami wujudkan dengan makin variatif. Lucunya, meski berakhir lebam-lebam, tak satupun dari kami mengeluh. Kami cenderung menikmati setiap prosesnya.

"Kenapa kau cuma mau cerita padaku?"

"Kenapa? Ayolah, aku tahu luar dalam soal kau dan Dhani, tapi kalian nggak pernah cerita soal hal-hal kayak gini. Sola-ku sayang, ini saatnya kau jujur padaku, siapa tahu itu bisa membantuku, atau seenggaknya menenangkanku." ujar Zara sambil membenarkan lengan bajunya dan memasang lagi jam tangannya.

***

0 comments:

Post a Comment